Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

Banyak Cinta Di Sekolah

Oleh : Faozi Latif

Plak! spontan tangan kananku mendarat di pipinya.
Dia memegang pipi kirinya yang sedikit merah. Tapi saya yakin bukan karena sakit, tapi kaget tak menyangka aku akan melakukan hal itu. Tatapannya penuh tanda tanya.
Taman sekolah pada istirahat kedua biasa sepi. Pohon asam jawa yang biasa menjadi saksi mekarnya cinta kami berdua seakan ikut membisu. Tak terlihat daun yang bergerak tertiup angin. Ranting-ranting masih setia menyaksikan adegan tadi. Mungkin menunggu kisah yang akan terjadi selanjutnya.  
Rian, cowok yang sudah tiga bulan mengisi hari-hariku. Membuat semangatku untuk berangkat sekolah. Menghiburku ketika sedang sedih dan gelisah. Ah, berpisah sebentar saja sangat menyiksa. Hampir tidak ada cela yang mampu mendekatinya. Sempurna dan sangat sempurna. Selain tampan, dia juga tidak sombong walaupun katanya orang tuanya seorang petinggi di pemerintahan. Kesempurnaan semakin terlihat lebih ketika dia menembakku. Ah, bintang-bintang merasa iri melihat kegembiraanku saat itu.   
Aku heran. Kekuatan mana yang menggerakan tanganku untuk melakukan itu. Yang jelas aku sangat kecewa. Aku hanya bisa menangis. Dulu bagiku sosok Rian sangatlah sempurna. Dia sangat dewasa dan pengertian. Umurnya lebih tua dua tahun dariku. Aku kelas satu dan dia kelas tiga.
Bagiku dia bukan sekedar pacar, tapi sudah benar-benar belahan jiwa. Dialah sumber semangatku. Ada rasa damai kala di dekatnya.
Tapi sejak kejadian tadi, semuanya sirna. Rasa sayangku perlahan sirna berganti dengan kebencian. Aku merasa orang paling bodoh di dunia karena sudah memilih dia menjadi teman hidupku. Harga diriku seakan tercabik-cabik. Aku muak, aku benci. Rian go to hell!
Aku berlalu meninggalkan Rian yang masih seakan tidak percaya dengan perbuatanku. Mungkin dia menganggap aku kesurupan. Itu lebih baik, daripada membiarkan dia menginjak-injak harga diriku.

***
Aku sedang menyendiri di taman ketika tiba-tiba Rian datang.
"Karin, maafkan aku. Aku melakukan itu karena aku sayang sama kamu, aku cinta kamu." Rian berkata sambil berjongkok dan mengulurkan sekuntum mawar putih.
Ah, so sweet! Dulu aku sangat menyukai hal ini. Dia memang romantis. Aku selalu tersanjung dengan tingkahnya. Tapi tidak hari ini. Kebencianku sudah memenuhi rongga dada. Sepertinya semua kesempuranaannya telah sirna. Entah kemana wajah tampannnya, yang selalu membuat iri cewek-cewek di sekolah melihatku jalan bersamanya. 
"Ternyata aku baru tahu, rasa cinta dan sayangmu sangat dangkal. Kamu tidak mengerti rasa cinta secara utuh." aku berdiri dan berkata dengan keras. Dadaku kembang kempis menahan gejolak marah. Aku membiarkan dia tetap jongkok masih mengulurkan bunga.
"Bukankah itu biasa dilakukan bagi orang yang pacaran?” Rian berkata dengan lembut, sambil berusaha berdiri. Tapi bagiku itu bagaikan tamparan yang sangat keras.
"Mungkin biasa bagi orang lain, tapi tidak bagiku," suaraku tambah keras. Beruntung tidak ada seorangpun yang melihat dan mendengar pertengkaran kami.
"Cinta itu menjaga .... bukan merusak, cinta itu menghargai ... bukan menodai," aku mengusap air mata yang hampir tumpah. "Percuma berdebat dengan orang yang tidak mengerti cinta!” aku terus berlalu.
"Karin tunggu,.. aku belum selesai bicara!" Rian berusaha mengejarku.
Aku mengacuhkannya. Membiarkannya berusaha merenungi setiap langkah-langkah perjalanan cinta yang telah lama kami bingkai bersama.

***
"Nanti pulang sekolah aku main ke rumahmu ya Tin!" aku berkata sambil merajuk pada Titin teman sebangkuku.
Pak Eka guru Bahasa Inggris belum masuk kelas. Biasanya dia paling rajin, bel belum berbunyi dia sudah ada di depan pintu kelas.
"Tumben, emang Rian ga nganter kamu pulang?"
"Lagi sibuk,” Aku menjawab sekenanya. “Kamu ga keberatan kan?”
"Kalau keberatan sih gampang, masih banyak WC, heee…,” Titin berkata asal. “Sampe nginep sebulan juga ga pa-pa, heee...
“Ah kamu, jadi malu!”
Aku memang sudah biasa nginep di rumah Titin. Maklum bapak ibuku sering ke luar kota. Dari pada sepi di rumah mendingan ke rumah Titin sekalian nginep. Tapi itu dulu sebelum aku kenal dan deket dengan Rian.
Hari-hari berikutnya hanya ada aku dan Rian. Aku seakan lupa pernah berteman sangat dekat dengan Titin.
"Tadi Bu Fina nyariin kamu, ada apa sih! Titin berkata sambil mengunyah permen.
"Apa!.. Bu Fina, kira2 ada apa ya?" aku merasa heran, sepertinya aku ga pernah punya masalah.
"Kayaknya dia serius banget ingin ngomong sesuatu ke kamu!”
"Kamu jangan nakut-nakutin donk. Ya dah ntar pulang sekolah antar aku ke Bu Fina ya!"
"Eee kalo ada masalah aza ke aku, giliran lagi happy jadian sama Rian dimakan sendiri, aku ga dianggap."
“Maaf deh, Titin baik deh, heee..”
"Ok deh dengan syarat traktir mie ayam, deal?” kata titin sambil mengulurkan jari kelingkingnya padaku.
"Deal!” aku langsung melingkarkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya. Kami menyatu saling menarik, tersenyum dan tertawa bersama.
Tak berapa lama Pak Budi masuk mengabarkan bahwa Pak Eka ga masuk, lagi sakit. Dia memberikan tugas latihan dari buku LKS.
Aku seperti menemukan kembali ke duniaku yang dulu. Dunia yang seakan hampir jarang aku jamah. Kini dia hadir dengan sangat menawan.
Dengan semangat aku mengerjakan tugas Bahasa Inggris. Ternyata sangat menyenangkan. Beberapa soal yang sulit aku diskusikan dengan Titin. Tak lupa kamus menjadi referensi andalan saat genting seperti ini.
Teet...teeet, tak terasa bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.

****
"Siang Bu," sapaku pada Bu Fina di ruangan guru.
Untung ruangan sudah sepi, para guru sudah banyak pada pulang, hanya ada Pak Budi, Bu Sri dan Bu Fina.
"Siang... eh  Karin, sok masuk," logat bahasa sundanya masih kental walau setahun sudah mengajar di sekolah ini.
"Makasih bu, eee ... ada apa ya bu, ibu manggil saya?" aku berkata terpotong-potong. Tidak biasanya mulutku kelu.
"Iya, sok duduk dulu," Bu Fina menghentikan pekerjaannya mengoreksi hasil pekerjaan siswa.
Hampir tiap hari pasti ada tugas. Pelajaran matematika memang harus banyak praktek, begitu kata Bu Fina beberapa hari yang lalu.
Aku duduk berhadapan, Titin aku suruh menunggu di luar ruangan.
"Gimana kabarnya, Karin!”
"Baik bu!”
"Kamu sedang punya masalah?”
"Enggak... ada bu, emang kenapa?”
"Syukurlah kalau ga ada apa-apa.”
Bu Fina menggeser kursinya beberapa centimeter ke sebelah kanan. Aku jadi lebih jelas memperhatikannya. Jilbab yang selalu menutupi rambutnya membuat Bu Fina selalu terlihat anggun. Kulitnya yang putih dan hidungnya yang mancung sangat ideal. Apalagi ketika tersenyum, lesung pipitnya tergambar jelas. Walaupun sudah punya satu anak, tapi kecantikannya tidak luntur.
"Ibu perhatikan beberapa bulan ini nilai matematika kamu menurun drastis, kenapa?”
“Eeee … ga tahu bu, cuma untuk materi bunga tunggal, bunga majemuk memang sulit sekali bu, saya ga bisa menguasainya," aku berusaha menutupi. Jelas ga mungkin bisa menguasai, belajar juga ga pernah, ujarku dalam hati.
Memang intensitas belajarku beberapa bulan ini terganggu. Betul, memang aku menjadi sangat semangat berangkat sekolah. Tapi bukan untuk menemui soal-soal perhitungan bunga, diskonto dan soal lainnya. Rian yang membuat saya semangat berangkat sekolah. Dunia seakan hanya ada aku dan Rian. Tidak ada yang lain. Aku betul-betul mabuk, ya mabuk asmara. Banyak rutinitas yang biasa aku lakukan, dicancel just for Rian. Bahkan yang biasanya aku malas bangun pagi, tiga bulan ini tidak lagi.
"Mba Kiren tumben jam segini sudah bangun, ada acara pagi ya mbak, atau mau joging pagi," Mbok Karsem pembantuku kaget ketika tiga bulan yang lalu aku jadi rajin bangun pagi. Padahal untuk bangun jam 6 pagi aja, Mbok Karsem harus beberapa kali menggoyang-goyangkan tubuhku. Hal itu karena jam weker terbukti tidak cukup ampuh membangunkan aku.
“Harus ada peningkatan donk!” Aku menjawab sambil tersenyum.


"Kalau ada materi yang belum paham, langsung tanyakan saja sama ibu, nanti kalau sudah menginjak materi lain akan lebih susah lagi," Bu Fina menjelaskan dengan sabar.
Sebetulnya dia bisa saja mencurigaiku. Curiga ada hal yang sengaja aku sembunyikan. Sebagai peringkat pertama di kelas, tentu saja alasan yang aku sampaikan sangatlah tidak masuk akal.   
"Baik bu, terima kasih atas perhatian ibu," aku segera meninggalkan ruangan guru. Dari tadi memang aku sudah sangat gelisah ingin mengakhiri pembicaraan.
Aku berjalan ke luar dan aku dapati Titin masih setia menungguku.
"Kayaknya ada mendung nih!” titin berusaha mencandaiku. Saya yakin Titin mendengar semua pembicaraan kami di kantor.
"Mendung dari hongkong, aku kelilipan tahu!"
"Kelilipan Rian maksudnya," kata titin sambil tertawa.
Tak ayal akupun ikut tersenyum.

***
Kamar berukuran tiga meter persegi ini terlihat sempit, tidak seperti biasanya. Bukan karena banyaknya perabot atau buku. Tapi beban masalah yang menderaku seakan membuat gerakku sangat terbatas.
Kemarin Rian kirim sms mengajak ketemuan di taman, pas istirahat ke dua. Hal yang sangat aku nantikan ketika dulu. Duduk berduaan di taman sekolah membuat taman cintaku bersemi subur.
Tapi kali ini lain, aku ingin sekali menghindar darinya.
Berangkat sekolah menjadi keterpaksaan. langkah kaki yang gontai seperti menyeret beban yang sangat berat.
Entah dari mana asalnya tiba-tiba aku berfikir untuk konsultasi pada Pak Gunawan, guru BP. selain beliau bijaksana, setiap kata-katanya bagaikan api yang siap membakar semangat yang mendengarnya. Dia tidak pernah menghakimi siswa yang salah, tapi memberi contoh dan solusi. dan contoh itu ada pada Pak Gun sendiri.
Kali ini aku ingin curhat padanya.

***
"Tidak selalu rasa cinta dan sayang itu dibingkai dalam bentuk pacaran. akan lebih indah kalau rasa itu dibingkai dalam bentuk persahabat, pasti lebih kekal," belum apa-apa kata-kata Pak Gun sudah menghipnotisku.
"Pacaran memang menyenangkan, membuat semangat berangkat sekolah, tapi bukan berarti tidak ada efek negatifnya,” Pak Gun mencopot kaca matanya, membersihkan dan memakainya kembali.
"Pacaran membuat sulit belajar. ya.. gimana mau belajar kalau disetiap lembar buku ada gambar dia," dia tersenyum. “Yang jelas biasanya kalau ada kejadian, yang menanggung beban paling berat adalah perempuan," kata-kata terakhirnya membuat pikiranku berkelana.
Masih hangat ketika dengan sadar aku menampar Rian. Suatu hal yang mustahil terjadi. Ya aku memang merasa terhina.
Dia menciumku secara tiba-tiba. Aku tidak terima dengan perbuatannya. Aku juga tidak tahu kenapa aku membencinya. Benci dia melakukan itu padaku.
Mungkin teman-teman akan mengatakan aku kolot, tidak gaul, sok suci. Bagiku lebih baik dianggap kolot daripada merasa terhina. Terhina karena ternyata Rian menganggapku sama dengan wanita lainnya. Yang dengan mudah mengeksploitasi tubuh dengan alasan cinta.
Persangkaan sok suci semoga menjadi doa bagiku untuk menjadi suci yang sebenarnya.
Aku berterimakasih pada Pak Gun. Langkah kakiku terasa ringan. Aku semakin mantap menata masa depan.
Aku tidak perlu sembunyi lagi dari Rian. Di benakku sudah terangkai beragam kalimat untuk masa depan kami berdua.
Aku semakin tak sabar menunggu istirahat ke dua. Awan putih berkejaran seakan mengajak aku bercengkrama. Ternyata banyak cinta di sekolah.

Selasa, 11 Januari 2011

SESUATU YANG HILANG

Oleh : Suljiyah

            “Diam serius ‘ga aich?!”kata ku dengan lantang.
Semua terheran,mulut mereka tertutup,kaku dan membisu
            ”Ceileee...,sejak kapan kamu jadi tegas seperti ini?Ku takut....”Suara Rina memecah kesunyian
”Woy cepetan Rapat mau segera dimulau nich!”
Santos,ketua kelas mulai berkata ,tapa salam tanpa pembukaan Santos mulai nyerocos
            ”Woy kepriwe?Sapa sing duwe Usul?Aja meneng bae Atuh…!”
Pertanyaan santos dijawab dengan beberapa usulan,dua,tiga Orang diantara kami muali ngotot,mengeluarkan beberapa pandapat
            Aku hanya bengong tak mengerti bahasa mereka.dengan duduk bersila, kusangga dagu ku dengan tangan kanan.Aku bertanya dalam hati
            ”Bagaimana mau usul ?aku sendiri tak tau apa yang dibicarakan.” Sesekali aku angkat jari, melontarkan kata yang tak berarti. ”Bisa gak ngomongnya pake bahasa Indonesia?” Tapi semua nak tak menghiraukannya. Sungguh suatu kesia-siaan. Rapat yang menurutku tak bearti. Seolah hanya mainan. Di buka tanpa salam dan ditutup dengan keributan. Langkah-langkah keluar dengan tergesa. Padahal rapat belum ditutup. Tapi aku sependapat dengan mereka untuk apa menutup acara jika awalnya tak dibuka.

***

Bel kembali berdering. Semua anak bergegas pulang. Kecuali kelasku. Aku tak mengerti  ada acara apa. Setelah ku dengarkan. Aku baru mengerti berisi tentang peraturan-peraturan hasil rapat yang tadi tidak ku ikuti. Bagi siapa yang melanggar akan diberi sanksi.
Sesekali aku tertawa. Melihat Santos yang gelagapan di depan kelas. Dengan wajah memerah, ia menunduk. Mulai gugup untuk bicara. Selembar kertas mulai diangkat. Hampir menutup seluruh mukanya. Tangan bergetar, Santos merasa gugup. Dengan terbata-bata santos bicara. Kata-katanya tak jelas. Satu dua kata terpeleset. Bahkan sempat tertinggal ditenggorokan.
Aku heran. Seorang ketua kelas yang blagu bisa malu. Hanya dengan menatap beberapa pasang mata. Santos yang biasanya nyerocos bisa membisu, terpaku dan kaku. Cuape dech!!!!
***
Pagi-pagi benar. Aku berangkat ke sekolah, tepat jam06.30. aku sudah berada diambang pintu. Aku melangkah menghampiri kawanku. Mulai bergosip tentang Santos.
”Hei...bro, aku senang banget, kemarin aku bisa lihat Santos dengan wajah merah karena malu. Ketua kelas apaan kayak gitu. Cumong, cucah ngomong gitu ...!” kataku penuh kepuasan. Ke tiga temanku tertawa. Sudah lama kami benci pada dia. Blagu dan Ngomdo.
”Bro ,... kita lihat hari ini, peraturannya bakal diberlakukan gak, oke?” kataku nyeletuk.
”Oke,...! suara temanku serantak.
***

Bel tanda masuk berbunyi. Murid dikelas ku duduk rapi. Selang beberapa menit. Bu Nikem datang. Nama aslinya Arnike Kusumawati. Dia adalah guru yang tidak mau kalah oleh muridnya. Sekali bilang benar, harus benar. Padahal kami menganggap salah. Hal itu yang membuat kelas x tak menyukai dia.
”tok...tok...tok,” suara intu diketuk Via ratu bolos di kelasku. Seperti rapat kemarin. Terlambat 15 menit sanksinya mengepel ruangan. Setelah ku amati, peraturan berjalan baik. Semua bisa mematuhi. Tapi entahlah untuk esok hari. Masih seperti ini atau tidak.

***
Ini adalah hari ke dua. Pemandangan yang membuat tubuhku terhenyak. Aku berlari dengan tangan mengepal. Ku tutup pintu dan menguncinya. Semua itu ku lakukan demi menegakkan keadilan. Di sana ku dapati seorang ketua kelas keluar dan menemui seseorang. Tertawa dan bercanda. Padahal bukan waktu istirahat.
Yaaa... seperti inilah kelasku. Tak ada guru, semua keluar. Padahal mereka tahu dalam peraturan yang berlaku ”Dilarang keluar saat jam pelajaran” . bagaimana peraturan ini akan ditaati sedangkan figur kelas sendiri masih melanggar.
”Tok,..tok ...tok.. ,”pintu kelas diketuk dengan keras. Aku bergegas dan berlari membuka pintu. Dengan cepat ku buka kunci. Pintu ku buka agak lebar. Dengan muka tegas aku berkata,”Kenapa peraturan kau langgar?” dengan lantang Santos menjawab, ”Idih siapa yang buat peraturan seperti ini?” Si Wati tuh yang ngusulin seperti ini.”
Dengan nada kesal aku menjawab,”Tapikan ini peraturan bersama dan sudah menjadi aturannya seperti ini. ”EGP,” Santos menjawab sekenanya.
Hati kecilku berkata,” Apakah peraturan di kelas ini hanya berlaku bagi yang mengusulkannya?” padahal ini peraturan bersama. Meski yang membuat satu orang, tapi yang menjalankan adalah semuanya. Dasar ketua blagu, tak pernah mau tahu. Bisa-bisanya dia ngomong EGP.
Kembali aku berkumpul dengan temanku. Menggugat apa yang seharusnya kita gugat. Tapi Santos hanya cuek dan merasa bodoh.

***
Pengamatan untuk hari ke tiga. Hari ini aku perhatikan satu demu satu dari mereka. Jam kosong menjadi sasaran utama. Pandangan tajamku tertuju pada anak yang lewat di depanku.
”Assalamu ’Alaikum,” terdengar salam yang mengiringi ketukan pintu. Suara yang terdengar dari luar. Wati mencoba membuka pintu. Namun tindakannya terhenti,” Wati jangan dibuka.” suara wakil ketua kelas melarang. Tapi wati tetap membuka pintu. Seorang cewek tengah berdiri membawa 4 bungkus jajanan.
Beberapa menit kemudian. Ku pandangi langkah wakil ketua. Langkahnya terarah menuju pintu. Tak lama pula diikuti oleh langkah ketua kelas. Ku hampiri mereka berdua.” ada keperluan apa kalian keluar kelas?” kataku dengan nada sok tegas. ”Buyer di kelas, sumpek pengin ke luar cari angin, lagian ga ada guru inih!” mereka menjawab dengan santai.
Ku kunci pintu. Lalu melangkah ke depan. Ku heningkan kelas. Dengan tegas aku berkata,”Woy dengar, peraturan di kelas ini telah hilang, keadilan tak berpihak pada kita. Lihat ketua kelas dan wakilnya berada di luar. Apakah ada di antara kalian yang mampu melarang?” mereka keluar dengan sekenanya. Sementara jika kita yang keluar, kita di marahi. Adilkah ini?” mana peraturan yang telah kita sepakati?” akankah selamanya kalian seperti ini, gugat donk!” mereka hanya berdua. Sedangkan kita banyak. Kalian gak usah takut,” kataku tegas teriring emosi. Sampai tak sadar ku pukul meja guru.
”Iya, betul tuh!” suara anak-anak serentak,seolah setuju.
”Tapi kalian harus ingat. Demi menciptakan ketnangan dan kelancaran KBM. Kita semua harus berubah. Itu semua sia-sia. Kawan marilah kita berubah. Tempuh jalan lurus,” kataku meniru ustadz.
Kelas hening. Seolah meresapi apa yang ku katakan. Setelah diskusi, kami sepakat mengganti kepemimpinan. Berharap semester dua akan lebih aman terkendali.    



Palang Kayu

Oleh : Faozi Latif

“Kamu mau tidak, jadi da’inya As-Shaffa?” pertanyaan ini sangat mengagetkanku. Bukannya karena aku tidak bisa berdakwah, itukan makanan keseharianku. Tapi diutus untuk menjadi da’i di wilayah yang sama sekali belum aku ketahui, hmmm… kayaknya harus pikir-pikir lagi!
“Selama Ramadlan kan libur, paling kamu pulang kampung,”  pertanyaan kali ini semakin memojokanku. Aku tahu menolak berdakwah itu berdosa, coz setiap orang wajib berdakwah, aku ingat salah satu Hadis Nabi ‘sampaikan apa yang datang dariku walaupun hanya satu ayat’. Orang yang hanya hafal satu ayat saja wajib berdakwah apalagi aku santri Ma’had Al-Irsyad Salatiga, yang sudah beberapa kali membaca bulughul maram, fathul majid, dan beberapa kitab lain.
 “Begini saja, saya yakin kamu di kampung juga berdakwah, tapi kalau kamu menjadi da’inya As-Shafa, selain dapat amal shaleh, teman baru, dan kamu juga akan dapat honor lho,” Ustadz Imran tahu aja kelemahanku. Aku jadi tersenyum malu. Hee…boleh juga pikirku, itung-itung nambah jatah THR-ku. 
# # #
“Kamu saya utus ke Banyumas,” Ustadz Imran memberikan keterangan ketika aku sudah tak kuasa menolak beliau. Sempat aku bertanya kenapa harus aku yang menjadi da’i, yang dijawabnya dengan santai ‘Kalau kamu mau, kenapa cari yang lain’. Sebelum aku menyatakan siap, aku mengajukan syarat tiga hari sebelum lebaran aku boleh pulang, yang diamini oleh beliau. So, deal-lah kesepakatan.
“Di sana kamu akan bertemu dengan Pak Rusydi, pengurus Mesjid At-Taqwa,” Ustadz Imran menambahkan. Kemudian aku diberikan rute dan kendaraan yang harus aku tumpangi.
“Kapan aku harus berangkat?” aku mencoba bertanya.
“Lebih cepat lebih bagus,” Ustadz Imran menjawab. “Kira-kira kapan kamu siap diterjunkan,” aku tersenyum mendengar kata-katanya. Emangnya terjun payung.
“Besok tanggal satu Ramadlan, gimana kalau sekarang kamu berangkat, biar tidak kesorean,” Ustadz Imran memberi usul. Menurutnya jarak tempuh ke lokasi dari Yogya sekitar empat jam. Sedangkan sekarang jam sebelas lewat lima menit, berarti sampai lokasi sekitar jam tiga.
Aku pikir boleh juga. Kalau berangkat besok sudah puasa. Sedangkan bepergian jauh, ketika berpuasa pasti melelahkan. Akupun mengiyakan dan berpamitan kepada Ustadz Imran dan beberapa staff yang lain.
“Nanti aku kontak Pak Rusydi, kamu tinggal datang ke rumahnya dan bilang bahwa kamu utusan Ustadz Imran dari Yayasan As-Shoffa,” beliau menambahkan sambil menjabat erat tanganku.
Sebelum aku pergi, Ustadz Imran memberikan beberapa lembar kertas bergambar mantan Presiden Soeharto, aku hitung ada sepuluh. He…he.. .
# # #
“Bagaimana perjalannya Fauzi,” Pak Rusydi menyambutku dengan ramah, bagaikan menyambut kedatangan anak semata wayangnya yang sudah lama merantau. Aku senang sekali ditanya langsung memakai namaku, berarti Ustadz Imran sudah meneleponnya dan menjelaskan siapa aku sebenarnya.
“Alhamdulillah menyenangkan,” aku menjawab dengan muka berseri. Bukan hanya karena sudah menemukan tempat tinggal Pak Rusydi, tetapi juga keramahan yang sangat tulus terpancar dari wajahnya. Ternyata mencari rumah di desa sangat mudah. Asal tahu nama, semua orang tahu rumahnya. Itulah pengalamanku ketika menanyakan rumah Pak Rusydi di sebuah warung nasi.
Pak Rusydi tinggal bersama istri dan satu anak lelaki yang sebaya umurnya denganku. Beliau mengajar di SMP Negeri tak jauh dari rumahnya. Sedangkan istrinya adalah ibu rumah tangga biasa. Andi, nama anaknya droup out dari IPB, belum tahu persis sebabnya.
“Kamu pasti lelah, sekarang minum dulu airnya mumpung masih hangat,” Pak Rusydi mempersilahkan aku minum teh manis yang baru saja di sediakan oleh istrinya. Sambil minum teh manis dan makan Goreng Ubi, Pak Rusydi menceritakan perjalan hidupnya sampai bisa tinggal di Banyumas.
“Sebetulnya saya asli Pekalongan, kebetulan diangkat PNS di desa ini, sekaligus mendapatkan istri orang sini juga, jadi saya tinggal disini.”
Yang menarik saya adalah cerita beliau tentang adanya sebuah gua yang terletak di bukit desa sebelah yang sering dipakai untuk prosesi ibadah agama tertentu. Kalau tidak salah namanya Gua Maria.
Sayang sekali mulutku tidak mau kompromi sehingga aku menguap sampai beberapa kali. Secara otomatis ‘dongeng’ hari ini selesai, dan aku didaulat masuk kamar untuk istirahat.
# # #
Malam ini tarawih pertama. Aku agak kikuk ketika berangkat ke masjid. Aku takut jumlah rakaat shalatku berbeda dengan masyarakat di sini. Kenapa tadi di rumah aku tidak mencari info  terlebih dahulu pada Pak Rusydi, aku mengumpat sendiri dalam hati. Untungnya aku tidak disuruh menjadi imam. Tidak kebayang kalau aku menjadi imam shalat dan ternyata aku melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh masyarakat, bisa-bisa saat itu juga aku dipulangkan karena dianggap menyebarkan ajaran sesat.
Masyarakat umum biasanya memandang masalah fikih adalah nomor satu. Perbedaan di dalamnya bagaikan perbedaan aqidah. Maka aku harus sangat hati-hati untuk urusan ini.
Seperti ramadlan sebelumnya, sehabis shalat tarawih ada ceramah singkat yang sering disebut kultum. Pak Rusydi yang kebetulan menjadi imam tarawih langsung mempersilahkan aku untuk menjadi pembuka kultum di ramadlan ini. Dengan gaya kyai senior, aku mengawali kultum dengan muqadimah yang sangat lengkap. Aku menjelaskan tentang puasa dan hal-hal yang sunah untuk dilakukan. Surat Albaqarah ayat 183 tak lupa menjadi referensi utama.
Usai ceramah aku dikelilingi oleh bapak-bapak yang ingin sekedar berkenalan dan bertanya sesuatu. Suasana kekeluargaan seperti inilah yang slalu ku rindukan. Suasana yang jauh dari sifat individualistis. Ketika ada orang baru, apalagi da’i seperti aku, disambutnya dengan sangat terbuka.
Perbincangan berlanjut pada aktivitas yang biasanya dilakukan dalam rangka meramaikan Masjid At-Taqwa. Seorang jamaah menjawab dengan sedikit keluhan bahwa aktivitasnya sangat kurang. Beliau menginginkan adanya pengajian Bapak-bapak, pengajian Ibu-ibu dan pengajian umum. Selama ini yang ada hanya pengajian anak-anak sore hari yang diajar oleh Kanti.
Topik yang terakhir ini membuatku sangat tertarik untuk mengoreknya.
“Siapa Kanti, Pak,” aku mencoba bertanya.
“Dia anaknya Pak Rustam, masih SMA kelas tiga, tapi semangatnya luar biasa,” salah satu jamaah memberikan penjelasan.
“Kalau dia tidak ada otomatis anak-anakpun libur mengaji, soalnya tidak ada pengganti,” jamaah yang lain menambahkan.
Aku mengambil nafas tertahan menyayangkan hal ini. Ternyata masih ada daerah yang sangat memerlukan guru ngaji. 
Malam semakin larut, satu dua orang jamah sudah lebih dahulu pamit pulang.
# # #
Matahari masih menyisakan panasnya sore ini. Aku sengaja pergi ke Masjid untuk melihat anak-anak mengaji, sekalian aku ingin berkenalan dengan gurunya. Siapa ya….. aku coba mengingat-ingat. Kanti…, ya itulah namanya. Akhirnya aku ingat juga, maklum seringkali aku tidak terlalu menghapal nama, apalagi nama perempuan. Takut mengotori hati, cie…..
Alif, Ba…, dari luar sayup-sayup terdengar suara anak-anak mengaji. Dan beberapa kali pengulangan karena pengucapan kata-katanya kurang fasih. Ada sekitar dua puluh anak laki-laki dan perempuan yang ikut mengaji. Dan memang benar ternyata hanya seorang guru yang mengajar.
‘Shadaqallahul Adziem’, suara anak-anak serempak mengakhiri belajar Qurannya.
“Assalamu ‘Alaikum,” aku mencoba mendekati Kanti dengan tetap menjaga jarak. Dia bukan muhrimku, batinku berkata.
“Walaikum salam warahmatullah wabarokatuh, eh mas Fauzi” Kanti menjawab salamku dengan lengkap. Sambil membereskan beberapa buku iqra ke tempatnya, dia mengucapkan terimakasih kepadaku yang sudah mau mengajar di kampungnya. Aku sangat tersanjung dengan ucapannya, apalagi yang mengucapkan akhw…eh maksudnya cewek.
Saat itulah aku berusaha mencari informasi untuk program dakwahku. Kanti sepertinya sangat senang sekali, dan bisa berbagi peran dalam berdakwah denganku.
“Di sini ada juga LSM yang bergerak dalam bidang anak, tapi kurang tahu namanya, aktivitas mereka biasanya hari minggu,” Kanti menjelaskan dengan semangat. Menurut dia kegiatan LSM itu diantaranya menggambar, membaca dan beberapa kali rekreasi keluar.
“Berarti di samping anak-anak mendapatkan ilmu agama, mereka juga dapat ilmu lain ya,” aku salut juga ada LSM yang sampai ke desa untuk mengajar anak-anak.
# # #
Seperti biasa sehabis shalat shubuh aku melakukan olah raga sebentar. Lari pagi selama setengah jam agar jantungku sehat.
Suasana sangat sepi, hanya beberapa ibu-ibu yang terlihat membawa sayuran. Mungkin mau dijual ke pasar, pikirku.
Di kejauhan aku melihat kerumunan anak-anak dengan pakaian sudah rapi. Mungkin mereka akan rekreasi, atau lari pagi? Tak sabar akhirnya aku mendekat ke kerumunan mereka. Ternyata anak-anak itu mengelilingi seorang anak muda yang memakai kaos warna hijau kuning. Ada tulisan LSM pemerhati anak. Oh berarti ini yang sering mengajari anak-anak. Beruntung sekali aku bertemu dengan mereka. Ingin sekali rasanya bertukar pikiran dan berbagi pengalaman selama mendampingi anak. Langkahku semakin mendekat ke kerumunan anak-anak. Beberapa anak terlihat tertawa riang, seperti sedang mendapatkan hadiah. Bahkan beberapa anak laki-laki berebut mengambil sesuatu yang ada di tangan seorang anak muda itu. Aku tersenyum dengan tingkah mereka. Ketika jarakku dengan mereka sudah tidak bersekat, hatiku kelu, mulutku tak mampu bersuara, ternyata mereka memang sedang membagikan sesuatu. Permen….!!
# # #
Hari Minggu besok anak-anak akan diajak rekreasi oleh mas-mas dari LSM, Mas Fauzi bisa ikut mendampingi ga? Maaf bukan Kanti Suudzon, tapi Kanti curiga dengan LSM itu.
Sebuah surat tertanda Kanti singgah ke tanganku melalui perantara Agus adik bungsunya. Sudah beberapa kali dia menulis sesuatu kalau ada hal penting dan mendesak.
Surat tersebut mengingatkan aku ketika salah seorang pengurus LSM tersebut membagikan permen. Mungkin firasat Kanti benar, aku ingin tahu aktivitas mereka di luar.
Tepat jam 7 pagi Hari Minggu, aku sudah mandi dan bersiap untuk pergi. Aku mengajak Andi, anaknya Pak Rusydi untuk ikut dalam ‘misi’ ini. Kebetulan aku ga terlalu pandai mengendarai sepeda motor, so… Andilah yang jadi ojeknya.
Bus mini yang membawa rombongan anak-anak bergerak ke arah selatan, ke daerah Buntu*, meninggalkan segudang tanya yang ada di benakku. Dan dengan setia akupun mengikuti mereka dengan tetap menjaga jarak. Aku tidak mau aksiku membuntuti mereka diketahui. Ternyata rombongan mengarah ke Pantai Widara Payung. Sebuah pantai yang masih tergolong sepi dan cukup aman untuk membawa anak-anak untuk berenang. Hmmm, …… ternyata kecurigaanku tidak terbukti. Akupun merasa sedikit bersalah karena sudah mencurigai mereka.
Kurang lebih satu jam anak-anak dan tiga pengurus LSM tersebut berpesta air. Aku tersadar ketika mobil mulai bergerak kembali ke arah selatan, jalan pulang. Maafkan aku teman, aku sudah mencurigai kalian, bisikku dalam hati dan mohon ampun kalau sudah menodai amaliah puasaku.
Bus mini melaju dengan kencang diselingi dengan suara-suara mungil terdengar oleh telingaku. Ah senangnya jadi anak-anak !!!
Desa yang dituju sudah terlewat, tetapi ternyata bus tetap berjalan pelan. Mungkin masih ada wisata yang lain, begitu ujarku pada Andi di depanku.
Bus berbelok melewati jalan kecil tak beraspal, dan kemudian berhenti ketika jalannya  tidak cukup dilewati mobil. Anak-anak keluar berhamburan diikuti tiga pengurus LSM itu. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak, sambil menyenandungkan lagu-lagu dan yel-yel penggugah semangat. Beberapa ilalang tumbuh di sepanjang jalan itu. Mungkin ada acara out bond, pengenalan alam pada anak-anak. Memang pendidikan alam seharusnya diberikan pada anak-anak. Agar mereka merasa memiliki alam dan bisa menjaganya.
Akhirnya sampailah pada sebuah dataran yang cukup luas. Mereka semua berhenti berjalan. Jantungku berdetak kencang…..
Di depanku terlihat sebuah gua. Dan tepat di atas pintu gua ada sebuah tanda yang sangat jelas terlihat dari jarak lima belas meter, tempat aku bersembunyi. Palang kayu yang sudah cukup tua tapi masih terlihat kuat. SALIB !!!!