Rabu, 12 Januari 2011

Banyak Cinta Di Sekolah

Oleh : Faozi Latif

Plak! spontan tangan kananku mendarat di pipinya.
Dia memegang pipi kirinya yang sedikit merah. Tapi saya yakin bukan karena sakit, tapi kaget tak menyangka aku akan melakukan hal itu. Tatapannya penuh tanda tanya.
Taman sekolah pada istirahat kedua biasa sepi. Pohon asam jawa yang biasa menjadi saksi mekarnya cinta kami berdua seakan ikut membisu. Tak terlihat daun yang bergerak tertiup angin. Ranting-ranting masih setia menyaksikan adegan tadi. Mungkin menunggu kisah yang akan terjadi selanjutnya.  
Rian, cowok yang sudah tiga bulan mengisi hari-hariku. Membuat semangatku untuk berangkat sekolah. Menghiburku ketika sedang sedih dan gelisah. Ah, berpisah sebentar saja sangat menyiksa. Hampir tidak ada cela yang mampu mendekatinya. Sempurna dan sangat sempurna. Selain tampan, dia juga tidak sombong walaupun katanya orang tuanya seorang petinggi di pemerintahan. Kesempurnaan semakin terlihat lebih ketika dia menembakku. Ah, bintang-bintang merasa iri melihat kegembiraanku saat itu.   
Aku heran. Kekuatan mana yang menggerakan tanganku untuk melakukan itu. Yang jelas aku sangat kecewa. Aku hanya bisa menangis. Dulu bagiku sosok Rian sangatlah sempurna. Dia sangat dewasa dan pengertian. Umurnya lebih tua dua tahun dariku. Aku kelas satu dan dia kelas tiga.
Bagiku dia bukan sekedar pacar, tapi sudah benar-benar belahan jiwa. Dialah sumber semangatku. Ada rasa damai kala di dekatnya.
Tapi sejak kejadian tadi, semuanya sirna. Rasa sayangku perlahan sirna berganti dengan kebencian. Aku merasa orang paling bodoh di dunia karena sudah memilih dia menjadi teman hidupku. Harga diriku seakan tercabik-cabik. Aku muak, aku benci. Rian go to hell!
Aku berlalu meninggalkan Rian yang masih seakan tidak percaya dengan perbuatanku. Mungkin dia menganggap aku kesurupan. Itu lebih baik, daripada membiarkan dia menginjak-injak harga diriku.

***
Aku sedang menyendiri di taman ketika tiba-tiba Rian datang.
"Karin, maafkan aku. Aku melakukan itu karena aku sayang sama kamu, aku cinta kamu." Rian berkata sambil berjongkok dan mengulurkan sekuntum mawar putih.
Ah, so sweet! Dulu aku sangat menyukai hal ini. Dia memang romantis. Aku selalu tersanjung dengan tingkahnya. Tapi tidak hari ini. Kebencianku sudah memenuhi rongga dada. Sepertinya semua kesempuranaannya telah sirna. Entah kemana wajah tampannnya, yang selalu membuat iri cewek-cewek di sekolah melihatku jalan bersamanya. 
"Ternyata aku baru tahu, rasa cinta dan sayangmu sangat dangkal. Kamu tidak mengerti rasa cinta secara utuh." aku berdiri dan berkata dengan keras. Dadaku kembang kempis menahan gejolak marah. Aku membiarkan dia tetap jongkok masih mengulurkan bunga.
"Bukankah itu biasa dilakukan bagi orang yang pacaran?” Rian berkata dengan lembut, sambil berusaha berdiri. Tapi bagiku itu bagaikan tamparan yang sangat keras.
"Mungkin biasa bagi orang lain, tapi tidak bagiku," suaraku tambah keras. Beruntung tidak ada seorangpun yang melihat dan mendengar pertengkaran kami.
"Cinta itu menjaga .... bukan merusak, cinta itu menghargai ... bukan menodai," aku mengusap air mata yang hampir tumpah. "Percuma berdebat dengan orang yang tidak mengerti cinta!” aku terus berlalu.
"Karin tunggu,.. aku belum selesai bicara!" Rian berusaha mengejarku.
Aku mengacuhkannya. Membiarkannya berusaha merenungi setiap langkah-langkah perjalanan cinta yang telah lama kami bingkai bersama.

***
"Nanti pulang sekolah aku main ke rumahmu ya Tin!" aku berkata sambil merajuk pada Titin teman sebangkuku.
Pak Eka guru Bahasa Inggris belum masuk kelas. Biasanya dia paling rajin, bel belum berbunyi dia sudah ada di depan pintu kelas.
"Tumben, emang Rian ga nganter kamu pulang?"
"Lagi sibuk,” Aku menjawab sekenanya. “Kamu ga keberatan kan?”
"Kalau keberatan sih gampang, masih banyak WC, heee…,” Titin berkata asal. “Sampe nginep sebulan juga ga pa-pa, heee...
“Ah kamu, jadi malu!”
Aku memang sudah biasa nginep di rumah Titin. Maklum bapak ibuku sering ke luar kota. Dari pada sepi di rumah mendingan ke rumah Titin sekalian nginep. Tapi itu dulu sebelum aku kenal dan deket dengan Rian.
Hari-hari berikutnya hanya ada aku dan Rian. Aku seakan lupa pernah berteman sangat dekat dengan Titin.
"Tadi Bu Fina nyariin kamu, ada apa sih! Titin berkata sambil mengunyah permen.
"Apa!.. Bu Fina, kira2 ada apa ya?" aku merasa heran, sepertinya aku ga pernah punya masalah.
"Kayaknya dia serius banget ingin ngomong sesuatu ke kamu!”
"Kamu jangan nakut-nakutin donk. Ya dah ntar pulang sekolah antar aku ke Bu Fina ya!"
"Eee kalo ada masalah aza ke aku, giliran lagi happy jadian sama Rian dimakan sendiri, aku ga dianggap."
“Maaf deh, Titin baik deh, heee..”
"Ok deh dengan syarat traktir mie ayam, deal?” kata titin sambil mengulurkan jari kelingkingnya padaku.
"Deal!” aku langsung melingkarkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya. Kami menyatu saling menarik, tersenyum dan tertawa bersama.
Tak berapa lama Pak Budi masuk mengabarkan bahwa Pak Eka ga masuk, lagi sakit. Dia memberikan tugas latihan dari buku LKS.
Aku seperti menemukan kembali ke duniaku yang dulu. Dunia yang seakan hampir jarang aku jamah. Kini dia hadir dengan sangat menawan.
Dengan semangat aku mengerjakan tugas Bahasa Inggris. Ternyata sangat menyenangkan. Beberapa soal yang sulit aku diskusikan dengan Titin. Tak lupa kamus menjadi referensi andalan saat genting seperti ini.
Teet...teeet, tak terasa bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.

****
"Siang Bu," sapaku pada Bu Fina di ruangan guru.
Untung ruangan sudah sepi, para guru sudah banyak pada pulang, hanya ada Pak Budi, Bu Sri dan Bu Fina.
"Siang... eh  Karin, sok masuk," logat bahasa sundanya masih kental walau setahun sudah mengajar di sekolah ini.
"Makasih bu, eee ... ada apa ya bu, ibu manggil saya?" aku berkata terpotong-potong. Tidak biasanya mulutku kelu.
"Iya, sok duduk dulu," Bu Fina menghentikan pekerjaannya mengoreksi hasil pekerjaan siswa.
Hampir tiap hari pasti ada tugas. Pelajaran matematika memang harus banyak praktek, begitu kata Bu Fina beberapa hari yang lalu.
Aku duduk berhadapan, Titin aku suruh menunggu di luar ruangan.
"Gimana kabarnya, Karin!”
"Baik bu!”
"Kamu sedang punya masalah?”
"Enggak... ada bu, emang kenapa?”
"Syukurlah kalau ga ada apa-apa.”
Bu Fina menggeser kursinya beberapa centimeter ke sebelah kanan. Aku jadi lebih jelas memperhatikannya. Jilbab yang selalu menutupi rambutnya membuat Bu Fina selalu terlihat anggun. Kulitnya yang putih dan hidungnya yang mancung sangat ideal. Apalagi ketika tersenyum, lesung pipitnya tergambar jelas. Walaupun sudah punya satu anak, tapi kecantikannya tidak luntur.
"Ibu perhatikan beberapa bulan ini nilai matematika kamu menurun drastis, kenapa?”
“Eeee … ga tahu bu, cuma untuk materi bunga tunggal, bunga majemuk memang sulit sekali bu, saya ga bisa menguasainya," aku berusaha menutupi. Jelas ga mungkin bisa menguasai, belajar juga ga pernah, ujarku dalam hati.
Memang intensitas belajarku beberapa bulan ini terganggu. Betul, memang aku menjadi sangat semangat berangkat sekolah. Tapi bukan untuk menemui soal-soal perhitungan bunga, diskonto dan soal lainnya. Rian yang membuat saya semangat berangkat sekolah. Dunia seakan hanya ada aku dan Rian. Tidak ada yang lain. Aku betul-betul mabuk, ya mabuk asmara. Banyak rutinitas yang biasa aku lakukan, dicancel just for Rian. Bahkan yang biasanya aku malas bangun pagi, tiga bulan ini tidak lagi.
"Mba Kiren tumben jam segini sudah bangun, ada acara pagi ya mbak, atau mau joging pagi," Mbok Karsem pembantuku kaget ketika tiga bulan yang lalu aku jadi rajin bangun pagi. Padahal untuk bangun jam 6 pagi aja, Mbok Karsem harus beberapa kali menggoyang-goyangkan tubuhku. Hal itu karena jam weker terbukti tidak cukup ampuh membangunkan aku.
“Harus ada peningkatan donk!” Aku menjawab sambil tersenyum.


"Kalau ada materi yang belum paham, langsung tanyakan saja sama ibu, nanti kalau sudah menginjak materi lain akan lebih susah lagi," Bu Fina menjelaskan dengan sabar.
Sebetulnya dia bisa saja mencurigaiku. Curiga ada hal yang sengaja aku sembunyikan. Sebagai peringkat pertama di kelas, tentu saja alasan yang aku sampaikan sangatlah tidak masuk akal.   
"Baik bu, terima kasih atas perhatian ibu," aku segera meninggalkan ruangan guru. Dari tadi memang aku sudah sangat gelisah ingin mengakhiri pembicaraan.
Aku berjalan ke luar dan aku dapati Titin masih setia menungguku.
"Kayaknya ada mendung nih!” titin berusaha mencandaiku. Saya yakin Titin mendengar semua pembicaraan kami di kantor.
"Mendung dari hongkong, aku kelilipan tahu!"
"Kelilipan Rian maksudnya," kata titin sambil tertawa.
Tak ayal akupun ikut tersenyum.

***
Kamar berukuran tiga meter persegi ini terlihat sempit, tidak seperti biasanya. Bukan karena banyaknya perabot atau buku. Tapi beban masalah yang menderaku seakan membuat gerakku sangat terbatas.
Kemarin Rian kirim sms mengajak ketemuan di taman, pas istirahat ke dua. Hal yang sangat aku nantikan ketika dulu. Duduk berduaan di taman sekolah membuat taman cintaku bersemi subur.
Tapi kali ini lain, aku ingin sekali menghindar darinya.
Berangkat sekolah menjadi keterpaksaan. langkah kaki yang gontai seperti menyeret beban yang sangat berat.
Entah dari mana asalnya tiba-tiba aku berfikir untuk konsultasi pada Pak Gunawan, guru BP. selain beliau bijaksana, setiap kata-katanya bagaikan api yang siap membakar semangat yang mendengarnya. Dia tidak pernah menghakimi siswa yang salah, tapi memberi contoh dan solusi. dan contoh itu ada pada Pak Gun sendiri.
Kali ini aku ingin curhat padanya.

***
"Tidak selalu rasa cinta dan sayang itu dibingkai dalam bentuk pacaran. akan lebih indah kalau rasa itu dibingkai dalam bentuk persahabat, pasti lebih kekal," belum apa-apa kata-kata Pak Gun sudah menghipnotisku.
"Pacaran memang menyenangkan, membuat semangat berangkat sekolah, tapi bukan berarti tidak ada efek negatifnya,” Pak Gun mencopot kaca matanya, membersihkan dan memakainya kembali.
"Pacaran membuat sulit belajar. ya.. gimana mau belajar kalau disetiap lembar buku ada gambar dia," dia tersenyum. “Yang jelas biasanya kalau ada kejadian, yang menanggung beban paling berat adalah perempuan," kata-kata terakhirnya membuat pikiranku berkelana.
Masih hangat ketika dengan sadar aku menampar Rian. Suatu hal yang mustahil terjadi. Ya aku memang merasa terhina.
Dia menciumku secara tiba-tiba. Aku tidak terima dengan perbuatannya. Aku juga tidak tahu kenapa aku membencinya. Benci dia melakukan itu padaku.
Mungkin teman-teman akan mengatakan aku kolot, tidak gaul, sok suci. Bagiku lebih baik dianggap kolot daripada merasa terhina. Terhina karena ternyata Rian menganggapku sama dengan wanita lainnya. Yang dengan mudah mengeksploitasi tubuh dengan alasan cinta.
Persangkaan sok suci semoga menjadi doa bagiku untuk menjadi suci yang sebenarnya.
Aku berterimakasih pada Pak Gun. Langkah kakiku terasa ringan. Aku semakin mantap menata masa depan.
Aku tidak perlu sembunyi lagi dari Rian. Di benakku sudah terangkai beragam kalimat untuk masa depan kami berdua.
Aku semakin tak sabar menunggu istirahat ke dua. Awan putih berkejaran seakan mengajak aku bercengkrama. Ternyata banyak cinta di sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar