Rabu, 12 Januari 2011

Guru Agama benteng yang dibiarkan rapuh


 
Sebuah bangunan yang mewah tapi tidak punya pondasi yang kokoh, bisa jadi akan hancur walau hanya dengan sedikit goncangan. sebaliknya bangunan yang sederhana akan kokoh ketika disokong oleh pondasi yang kokoh.
begitu berartinya pondasi. padahal biasanya pondasi dibangun sebagai alas. itu berarti seringkali pondasi itu tidak terlihat wujudnya karena ditanam ditanah.
demikian juga pondasi selalu dibangun pertama sebelum yang lainnya. ketika pondasi sudah selesai, maka tinggal mengembangkan menjadi bangunan sesuai keinginan.
dalam dunia pendidikan, akhlak menjadi hal yang sangat urgen bagi peserta didik. dalam sebuah syair, dijelaskan
sesungguhnya setiap umat tergantung dari akhlaknya, apabila akhlaknya hancur/rusak, maka rusak pulalah umat itu.
Ketika akhlak seseorang sudah terbentuk, maka pengembangan berikutnya mengikuti keinginan/kebutuhan peserta didik tersebut.
ilmu tanpa akhlak seringkali merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
di dunia pendidikan salah satu benteng akhlak adalah guru agama. sejak dahulu, guru agama mempunyai tanggung jawab untuk menjaga murid2nya dari perilaku tercela. bukan hanya di lingkungan sekolah, tapi juga di masysrakat.
di masa sekarang, beban itu semakin bertambah. karena di samping guru agama mengajari berlaku santun di sekolah, di masyarakat bahkan di dunia maya.Tapi beban yang berat tersebut sangat tidak berimbang dengan kesejahteraan yang diperoleh. Bukan sebagai justifikasi, tapi satu contoh guru agama di Madiun yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. hal itu bermula karena beban himpitan ekonomi.
bahkan dalam sertifikasipun guru agama mengalami kegalauan. apalagi guru agama yang mengajar di sekolah yang dibawah diknas. bagaimana mungkin mengajarnya di bawah diknas tapi sertifikasinya dibawah depag?
secara sederhana, seorang ibu pasti akan menyuapi anaknya terlebih dahulu sebelum menyuapi anak tetangga. ketika semua anaknya sudah makan dan kenyang, baru dia memberikan kepada anak tetangga. hal itu tentu kalau masih ada sisa, kalau sudah habis?
wallahu a'lam bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar