Selasa, 11 Januari 2011

SEMANIS LUKA DALAM CINTA DAN KEIKHLASAN


Oleh : Suljiyah

Dua remaja dalam satu keluarga yang cukup bahagia, membangun rumah tangga bersama ayah dan ibunda tercinta. Imel dan Ela adalah remaja yang terlahir dari keluarga yang cukup mampu. Mereka bahagia dengan keadaannya saat ini. Dua putrid yang telah Allah anugerahkan adalah kebanggaan terbesar dalam hidupnya. Selisih umur Imel dan Ela adalah lima tahun. Anak pertamanya bernama Imel. Dia adalah seorang gadis yang bekerja pada sebuah pabrik textile. Sementara anak ke dua bernama Ela, gadis polos yang duduk di bangku SMA kelas 3. Antara Imel dan Ela terdapat banyak perbedaan. Kedewasaan lebih berpihak kepada seorang adik dan kekanak-kanakan lebih berpihak kepada seorang kakak.
Imel termasuk gadis cantik dan banyak pria yang suka sama dia. Namun sayangnya dia dia tidak pernah mau untuk diajak serius. Padahal tiga tahun terakhir ini sudah ada 4 laki-laki yang berniat melamar Imel. Dengan mudahnya Imel menolak lamaran itu, tanpa memikirkan akan perasaan kedua orang tuanya. Padahal mereka sudah menaruh harapan besar kepada anak gadisnya itu agar cepat-cepat berumah tangga. Dia juga tidak tahu bahwa orang tuanya merasa malu pada tetangga-tetangga sekitar. Berbagai macam ucapan yang tidak mengenakan pernah terdengar di telinga sang ibu. Sampai-smpai sang ibu menangis menyesali hidupnya. Yang tidak bisa mendidik anak dengan baik. Menyesal telah memanjakan anak pertamanya itu.
Namun lain halnya dengan Ela. Gadis polos dan lugu ini telah lama berhubungan dengan seorang laki-laki yang sudah punya pekerjaan tetap. Kurang lebihnya dua tahun. Mereka telah berencana untuk melanjutkan hubungan mereka ke zona yang lebih serius. Ela berani mengambil keputusan itu karena dia tahu bahwa dia tidak bisa melanjutkan sekolah sebab orang tuanya tidak bisa membiayai sekolah Ela sampai perguruan tinggi setelah tunangan nanti. Tepatnya setelah lulus SMA.
Sehari setelah pengumuman kelulusan. Pria itu datang dengan didampingi oleh ayahnya membawa segenggam benih surga, setetes kehidupan dan seikat kebahagiaan. Tak lupa pula membawa cincin tanda pengikat di antara mereka. Dia bermaksud menggandeng Ela menuju kehidupan baru bersama dirinya. Dua kebahagiaan yang kini Ela rasakan. Pertama dia bisa lulus dengan nilai sangat bagus, kedua, apa yang ia rencanakan selama ini akan menjadi kenyataan.
Namun Allah berkehendak lain. Apa yang Ela harapkan tidak sama dengan apa yang Allah gariskan. Orng tua Ela tidak menyetujui hal itu. Karena anak pertamanya itu juga belum menikah. Ayah Ela menjodohkan pria itu dengan Imel (anak pertamanya). Karena sekarang Imel telah sadar bahwa usianya telah cukup untuk berumah tangga, akhirnya ia mau dijodohkan dengan pria itu. Pria itu menolak, tapi Ela terus membujuk sampai dia mau. Dengan sedikit rasa tidak rela, ia menyetujui hal itu. Betapa dalam luka Ela yang harus merelakan apa yang selama ini dia pertahankan hanya kebahagiaan kakak dan kedua orang tuanya. Hingga ia rela mengorbankan masa depannya sendiri.
Tidak mudah mendatangkan keikhlasan agar menyelimuti tubuh kita. Sekalipun ya, dia mengucapkan kata ikhlas, semua itu hanyalah kebohongan. Karena sesungguhnya ikhlas yang sebenarnya adalah merelakan apa yang telah kita miliki tanpa ada sedikitpun perasaan yang mengganjal di hatinya.
Keikhlasan bermula dari hati yang bersih. Tanpa terselimuti rasa iri, kebencian dan kedengkian. Sesungguhnya dengki akan memakan seekrat demi sekerat hati ini. Bagai pisau tajam berkilat-kilat, menghujam dada sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar