Rabu, 12 Januari 2011

INGIN KAYA, JANGAN BERHUTANG!

Oleh : Faozi Latif*

Sering kita membaca tulisan menjadi kaya dengan pinjam uang. tentunya si peminjam betul2 memanfaatkan uang pinjamannya untuk menambah pundi2 uangnya. sehingga dia bisa membayar hutangnya tanpa mengurangi harta yang dia miliki. bahkan dia bisa menghasilkan uang dari uang yang dipinjam. tapi argumentasi di atas tidak selamanya benar. pinjam uang tidak selamanya membuat kita tambah kaya, bahkan bisa sebaliknya. pinjam uang bisa menjerat kita menjadi tidak punya uang.
Belum setahun saya menempati rumah baru di Karangpucung Cilacap. Ada hal yang sangat berbeda dengan di tempat tinggal dulu. Di sini, hampir setiap hari tak kurang dari empat orang bersepeda motor yang berbeda datang dan membawa catatan keuangan.  Mereka adalah karyawan bank harian yang datang untuk menarik setoran. Kebetulan tetangga saya sering menjadi tempat transaksi peminjaman maupun setoran.
Hampir semua tetangga sekitar memanfaatkan jasa peminjaman uang tersebut. Secara ekonomi jelas perilaku ini sangat merugikan masyarakat. Karena masyarakat dibebani dengan bunga yang besar.
Besar pinjaman berkisar antara lima puluh ribu rupiah sampai lima ratus ribu rupiah. Sedangkan mayoritas pinjaman tetangga saya berkisar seratus sampai dua ratus ribu rupiah. Seandainya peminjam meminjam uang seratus ribu, maka ia akan mendapatkan cash money sembilan puluh ribu rupiah. Disini ada pemotongan untuk administrasi sepuluh persen. Sedangkan rata-rata cicilan sepuluh sampai dua belas kali. Seandainya peminjam menyicil sebanyak dua belas kali, maka dia mengangsur sepuluh ribu rupiah. Sehingga kalau dikalkulasikan peminjaman seratus ribu rupiah, pemilik modal mendapatkan penghasilan tiga puluh ribu rupiah dikurangi lima ribu rupiah sebagai simpanan si peminjam. Jadi total pemasukan dua puluh lima ribu rupiah.

Beberapa Alasan kuat
Ada beberapa alasan kenapa masyarakat sekitar Karangpucung lebih memilih meminjam di bank harian. Pertama, alasan praktis dan fleksibilitas. Alasan ini paling mendasar. Ketika calon peminjam membutuhkan sejumlah uang dan ada bank keliling yang datang maka ketika itu dia bisa meminjam. Jadi peminjam tidak diharuskan datang ke kantor.
Hal ini berbeda dengan calon peminjam di bank. biasanya calon peminjam diharuskan datang ke kantor untuk pengajuan peminjaman. Dalam pengajuan tersebut calon peminjam dibebani beberapa dokumen penguat seperti foto copy KTP, Kartu Keluarga bahkan agunan. Kesan praktis lebih terasa lagi karena menggunakan sistem saling percaya. Yakni pihak pemilik uang memberikan pinjaman dan percaya peminjam akan mengembalikan hutangnya dalam tempo dan jumlah cicilan sesuai kesepakatan. Pengalaman penulis mengajukan pinjaman di bank, tak kurang dari seminggu kita menunggu kepastian, setelah kita mengisi formulir pengajuan dengan lampiran yang cukup banyak.
Dalam membayar cicilanpun peminjam tidak secara kaku menyetorkan uang sesuai kesepakatan. Ketika peminjam tidak punya uang, maka ia dibolehkan untuk membayar lain waktu dengan tambahan uang yang belum ia bayar pada hari tersebut.
Kedua adalah calon peminjam tahu dari awal bahwa peminjamannya dikabulkan sesuai dengan jumlah peminjaman. Tetapi kalau pinjam di bank, pengajuan peminjaman akan dirasionalisasikan dengan sejumlah pemasukan, atau seharga agunan yang diberikan. sehingga sangat mungkin realisasi peminjaman lebih kecil dari jumlah yang dipinjam.
Bukan usaha kalau tanpa resiko. Walau keuntungannya banyak ada sebagian usaha bank harian yang gulung tikar. Hal itu karena pengembalian yang seret. Sehingga kejelian karyawan bank harian dalam memberikan pinjaman sangat diperlukan.
Biasanya seorang yang sudah pernah meminjam di bank harian, sulit sekali untuk keluar dari kebiasaan ini. Karena mereka akan ditawari pinjaman lagi ketika setoran sudah hampir selesai atau minimal setengah lebih. Begitulah seterusnya.
Di samping dua hal tersebut di atas, budaya konsumerismepun ikut meletarbelakangi menjamurnya budaya pinjam meminjam. Keinginan yang besar sementara pemasukan kecil memaksa mereka harus menanggalkan budaya sederhana. Akhirnya yang terjadi adalah besar pasak dari pada tiang. Pengeluaran lebih banyak dari pada pemasukan.
Sebetulnya budaya meminjam bukanlah hal yang buruk. Bahkan ada banyak orang yang bisa mempergunakan uang orang lain dari pinjaman untuk memperkaya diri. Mereka mendayagunakan uang pinjaman untuk berbisnis atau wiraswasta. Yang kemudian harus dipentingkan adalah pendidikan manajemen berhutang pada masyarakat.
Biasanya masyarakat kita cenderung berhutang (pinjam uang) ketika tidak punya uang. Mereka meminjam untuk keperluan konsumtif. Akibatnya giliran mengembalikan uang, mereka kelabakan. Mungkin ada yang sampai gali lobang tutup lobang. Pinjam uang untuk membayar utang.
Akan lebih baik kalau masyarakat dibiasakan meminjam uang untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Jadi tujuan peminjaman bukan konsumtif, tapi produktif. Sehingga untuk pengembalian, mereka tidak akan kesulitan.


* Pemerhati sosial dan tinggal di Karangpucung Cilacap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar